Apa yang harus kuperbuat? Aku hanya diam di atas batu karang. Menatap ombak nan gemulai. Merintis serpih pasir. Menyentuh garis cakrawala. Dan memandang senja nan jauh disana.
Aku merintih dunia fatamorgana. Tak ada serbuk impian yang bisa kutepis. Hanya asa kosong dalam jelaga sepi. Ingin teriak pada ilalang nan bergoyang. Menabuh gendang dan menari-nari di atas altar keseimbangan.
Disini memang sepi. Seperti rumah tanpa tuan yang gentayangan. Ketika malam tiba, ruh-ruh mengapung di atas gelombang samudra. Menjerit dengan siulan lengking dan meng-gerepe dada dalam dingin. Tapi aku tetap diam. Saga dalam segala kelakuanku. Bingung dengan tumpah kataku.
Ada hantu yang bergelantung di antara udara. Mereka tak menatapku awalnya. Dan ketika mereka menatapku, mereka diam dan buatku juga diam. Aku percaya pada illahi, jadi untuk apa aku takut menatapmu? Mereka pun akhirnya lari terbirit-birit menuju keujungan langit.
Sungguh sepi disini. Hantu saja menjauhiku. Apa mereka takut padaku? Atau karena tak bisa menakutiku?.
Gagak memekik lantang, kumbang menggali dengan senang. Aku tetap diam. Dalam gerimis cinta aku memandang langit biru. Mereka juga mendadak tak ada ketika pandanganku bergeser menatapnya.
Langit memang tak salah menjauhiku. Ketika awan bergeser, diapun ikut. Kini dapat kulihat dengan mata telanjang, Bintang bermain dengan mesra. Membentuk kaligrafi cinta dengan rasinya. Namun terjadi lagi ketika mereka memandangku. Bintang bubar barisan! Ada apa dengan mereka?. Semua membuatku bingung.
Kini ujung dunia melompong. Dapat kulihat bulan dengan jelas. Pijarnya sungguh menyilaukan ketika langit telah pergi. Bulan seperti punya mata. Melirik ke kiri dan ke kanan. Seperti berbincang dengan surya yang tenggelam. Menyapa seluruh planet dengan keanggunannya. Kadang tersenyum dengan lubang di wajahnya. Namun ketika mata itu menatapku dia berteriak dengan kencang. Sama seperti bintang-bintang yang lari terbirit-birit. Ada apa dengan aku?
Sang surya marah melihat Bulan pergi menjauhinya. Dia kira ada yang berani menggoda pujaan hatinya. Semakin membaralah jiwanya. Dapat kulihat mars dan merkurius menyingkir dari orbit. Mereka ditampar oleh Sang surya. Mereka melebur menjadi kerikil yang disebut asteroid. Saturnus menggadaikan cin-cinnya untuk menyuap Sang surya. Tak palak sang surya pun semakin garang. Dihempaskannya planet terindah itu kedalam lubang hitam. Semakin besar bara itu membakar seluruh planet kecuali Bumi. Bumi adalah anak kesayangan Bulan.
Sang surya semakin membabi buta, diterjangnya segala galaksi yang merajai seni di angkasa. Dimakannya bimasakti dengan semprani di tubuhnya. Ganas dan tak kenal ampun sang surya murka. Melirik dia ke kiri dan ke kanan. Mencari bulan yang hilang entah kemana.
“Cari apa kau Matahari?” tanyaku berbisik.
Jelas Sang surya tak mendengar. Jarakku dengannya berjuta-juta kilometer. Lagipula untuk apa dia mendengarkan manusia kerdil berbicara.
Sang surya panik bukan kepalang. Menjerit dia dengan teriakannya yang membahana. Membuat dunia bergetar dengan segala kekuatannya. Lapisan bumi retak, runtuh seperti bangunan keropos. Jatuh menghantam tanah dengan kejam. Para gagak memekik kencang dan akhirnya terbakar panas. Ombak menggulung karang, hempaskan aku dari satu karang ke karang yang lainnya. Aku gamang merasakan getaran bumi. Badanku terasa dikejar setan. Buatku menggigil kesakitan. Basah aku oleh ombak. Namun sang surya tak bergeming sedikitpun. Dia tetap memancarkan pijarnya dengan keras. Membuat gunung mual. Meletus dengan magmanya. Merajam rumput menjadi abu. Di hidung gunung, Lahar menjalar hingga ke sudut desa ,terdengar pekikan manusia hingga memekakan telingaku. Tak dapat kulihat mereka disana, apakah masih hidup atau tidak. Dunia terasa mencekam.
Sang surya tak mau diam. Tak lekang kemarahannya. Dia tetap mengamuk dan mengamuk. Membuat gosong langit yang pergi. Menjadikan janda awan yang indah. Merobek bumi hingga terbelah dua. Dia tak hiraukan kesayangan Bulan. Matahari semakin garang.
‘Ini semua tak dapat dibiarkan.’ Dengan tubuh yang memar aku menggapai ujung karang. Berdiri dan berteriak lantang.
“MATAHARI, INI BUKAN SAATNYA KIAMAT!!!”
Sang surya tetap meradang, murkanya tetap kencang. Tak dengar dia aku menerjang suaraku dengan parau.
“WOIII, MATAHARI ..IIII…NIII…BU…KANNN…SAATNYAA…KIA..MAT !!!” kuulangi teriakan itu dengan ejaan.
Sang surya kali ini mendengar suaraku yang sekeras aum. Murkanya memang tak kembalikan bumi menjadi satu dan jagat raya menjadi utuh. Namun dia melirik ke belahan bumi terujung. Matanya sangat tajam menatapku. Sejenak kualihkan pandanganku pada retakan bumi yang menjauh dari pulauku dan tumpahnya laut melayang di angkasa. Kemudian kukembalikan lagi tatapanku pada sang surya.
“Hah?! Kemana dia?” tanyaku dengan kerutan di alis.
Duduk aku di ujung karang itu. Melihat jagat raya kosong. Gulita dan tak teraba. Apakah dunia masih ada? Karena ini terasa selesai begitu saja. Kucoba pegang telingaku dengan meraba. Masih ada! Kusentuh juga bibirku, masih tetap seperti biasa. Dan kulentangkan tubuhku. Karang masih terasa. Jadi apa ini? Kemana matahari pergi? Dan apa aku harus hidup tanpa cahaya? Kiamatkah ini? Atau hanya mimpi belaka?
Setitik cahaya datang menghampiriku. Biarpun kecil aku merasa bahagia. Dia datang mendekatiku, semakin lama semakin besar. Awalnya kukira itu anai-anai yang mencari teman. Namun semakin ia mendekat– ia menjadi tiga kali lipat lebih besar dariku. Sekitar 12 hingga 14 kaki.
“Apa yang kau perbuat manusia?” tanya cahaya itu.
“Justru aku ingin bertanya, ada apa dengan semua ini? Dan kau siapa?” jawabku bingung.
“Tak usah kau bertanya manusia, itu bukan wewenangmu! Jelaskan saja kenapa kau buat murka ciptaanNya?”
“Aku hanya menatap awan, langit, bintang, bulan dan yang terakhir matahari. Dan entah kenapa mereka semua pergi. Dan aku yakin kau tahu kenapa jagat raya kini gelap. Untung saja kau datang. Setidaknya ada yang menemaniku.”
“Malangnya dirimu manusia, tak sadarkah kau kini penghancur nomor satu di dunia?”
“Memangnya aku siapa? Aku ciptaan-Nya ,kan?”
“Kau raja sepi, selalu menyendiri. Hidupmu dipenuhi kepenatan. Kau tak pernah mau berbaur dengan orang sekitarmu. Sehingga semua orang tak ada yang mengenalmu. Dan ketika kau berbaur dengan alam. Mereka menganggapmu anak dajal yang lahir dari perut bumi. Jelas saja mereka lari terbirit-birit ketika kau menampakkan diri. Mereka pikir kiamat telah tiba.”
Aku bingung dengan ungkapannya. Salahkah aku jika hidup menyendiri?
“Jadi sekarang apa yang harus kulakukan, Cahaya indah?”
“Aku bukan tuhan, berdo’a lah kau padaNya. Sesungguhnya Dia Maha Adil dan Bijaksana.”
“Tapi aku tak menemukan air dan pasir untuk bersuci?”
“Manusia itu diciptakan sempurna” jawabnya menggema
Dia pergi menjauhiku, seolah berjalan ke dunia tanpa ujung. Semakin mengecil dan mengecil, lalu hilang ditelan gelap. Jagat raya kembali gelap dan tak ada yang menemaniku. Karang yang kududuki pun seperti ingin memelukku, karena dia tahu kesedihanku.
Kupejamkan mataku dan memohon dengan penuh cinta. Dan akhirnya mulut ini terbuka juga untuk alam. Setelah sekian lama aku tak menemuinya, seakan mereka memanggil panggilanku.
Sang surya kembali datang, bersama kekasihnya Bulan tercinta. Para planet pun berkumpul jadi satu dan membentuk orbit kembali seperti semula. Sang surya muntahkan isinya, galaksi kembali mengarung di angkasa. Laut bersatu dengan tanah, gunung bersihkan kotorannya, gagak kembali memekik dengan paraunya.
Semua hidup kembali. Bumi kembali terang. Dan memar di tubuhku tiba-tiba hilang seketika.
Tak mau aku meneteskan air mata, karena takut mereka semua pergi tinggalkan aku lagi. Kuberikan senyum terindah untuk alam. Dan mereka semua membalas dengan semilir angin nan sejuk. Menyapa setiap helai rambutku dengan cinta. Dan memberiku nafas untuk bahagia.
Sesosok wanita berjalan menendang pasir di tepi ombak. Menatap senja yang mulai tenggelam. Cantik dan mempesona. Kuhampiri dia dengan senyum lebar, lantas dibalasnya senyuman itu dengan jabat tangan.
Dia mendatangiku.
“Saya Milandha, boleh tahu namamu?”
“Rey.”
Wanita itu tersenyum lagi dengan senyum laksana berlian yang kemilau dengan cahayanya — dan akan beri cerita baru dalam kisahku. Kisah berkepanjangan yang akan takkan punah hingga saatnya tiba.
Danau Toba, 19 September 2008