Pindah Blog

Filed Under (Tak Berkategori) by rey_khazama on 01-04-2010

Dengan datangnya pengumuman ini. Saya beritahukan, kalau pemilik web ini yang bernama Rey Khazama: Pindah blog ke

http://www.reykhazama.wordpress.com

alasannya…karena saya males ngurus banyak-banyak blog. Harap maklum….tidak…harus maklum. Terima kasih.

Membisniskan Urusan Ketagihan Seks

Filed Under (itung-itung nambah ilmu) by rey_khazama on 21-02-2010

Tagged Under :

KOMPAS.com – Ketagihan seks bukan monopoli Tiger Woods. Seperti juga ketagihan minuman keras atau obat bius, mereka yang tidak bisa mengendalikan diri dalam urusan seks datang dari berbagai tingkat sosial.

Di kalangan pesohor, Woods tentu bukan satu-satunya orang yang sampai harus berurusan dengan klinik seks. Cuma bedanya, ia berani mengakui secara terbuka. Dan karena kebesaran nama Tiger Woods pula, persoalan ketagihan seks menjadi isu nasional di Amerika Serikat dan dilihat sebagai penyakit serius yang tidak bisa dibiarkan.

”Tokoh seperti Woods membuat masalah ini menjadi sangat menarik. Padahal saya sudah bertahun-tahun berurusan dengan hal ini,” kata Craig Gross, seorang ahli ketagihan seks yang telah menulis sejumlah buku mengenai topik itu. ”Banyak pasangan yang terpuruk karena masalah ini. Ini persoalan yang makin membesar, dengan makin banyaknya orang terkena dibandingkan dengan yang kita kira.

” Sejumlah klinik menawarkan perawatan yang meliputi psikoterapi, pengobatan (umumnya menggunakan antidepresan yang berfungsi untuk menurunkan gairah seks), dan diskusi kelompok. Sebetulnya ini mirip dengan program perawatan para pencandu alkohol. Kadang-kadang kerabat atau orang yang dekat dengan pasien diikutsertakan.

Butuh waktu yang tidak pendek untuk bisa mengatasi problem para pencandu seks ini. Seorang spesialis kecanduan seks dari Austin, Texas, Michael Johnson, mengatakan, untuk benar-benar sembuh, dibutuhkan waktu sampai dua tahun. ”Kadang kala bahkan bisa lebih dari itu,” katanya.

Jadi perdebatan

Persoalan ketagihan seks ini memang masih diperdebatkan. Apakah benar ini bisa dikategorikan sebagai penyakit? Asosiasi Psikiatri Amerika, misalnya, tidak menganggapnya benar-benar sebagai penyakit.

Namun, menurut Johnson, aktivitas seks yang sifatnya kompulsif dan tak terbendung bisa membahayakan. ”Dalam praktik saya, ada orang-orang yang tidak seterkenal Tiger Woods, tetapi cukup sukses, yang hidupnya dalam risiko,” katanya.

Urusan ketagihan seks ini rupanya ditangkap juga sebagai hal yang layak dibisniskan di dunia hiburan. Buktinya, sebuah reality show dengan judul Sex Rehab with Dr Drew—seri sebelumnya berjudul Celebrity Rehab with Dr Drew—diproduksi VH1 untuk siaran televisi di AS.

Di sini delapan pasien ditangani di Pasadena Recovery Center oleh Dr Drew Pinsky dalam sesi 21 hari. Mereka setiap hari melakukan pertemuan empat mata dan grup diskusi. Pasiennya antara lain adalah bintang film porno, model majalah Playboy, aktris, olahragawan, hingga desainer. (Reuters/FIT)

Sumber: http://id.news.yahoo.com/kmps/20100221/twl-membisniskan-urusan-ketagihan-seks-70701a2.html dan http://kompas.com/

Info Blog Sayah yang Lainnya

Filed Under (Pengumuman Euy!) by rey_khazama on 21-02-2010

Pembaca blog Rey Khazama yang budiman, baik hati, rajin menabung, dan taat pada orang tua. Kini blog sayah tercinta, ada lagi yang baru. Keluaran wordpress juga, tapi lebih personal. Walaupun masih dikit artikelnya, tapi kagak kalah rame, deh sama yang ini (rame? Kagak salah?)

ini dia link-nya. Tolong di-Save untuk keselamatan anda.

www.reykhazama.wordpress.com

Terima kasih

Rey Khazama

Mesin Perekam Mimpi Telah di Temukan

Filed Under (itung-itung nambah ilmu) by rey_khazama on 21-02-2010

Tagged Under :

Sejumlah ilmuwan Jepang mengambil langkah pertama dalam menciptakan mesin perekam mimpi. Terdengar seperti khayalan ilmiah, tapi itu lah yang sedang berlangsung di sebuah laboratorium di jepang.

Tim ilmuwan di Kyoto, Jepang mengembangkan teknologi pembentukan gambar dalam mimpi, yang dapat dengan cepat membaca pikiran manusia. Mereka telah mengembangkan sistem ini dengan MRI Scanners untuk membentuk gambar secara langsung dari otak. Percobaan menunjukkan subjek gambar disusun kembali berdasarkan kulit lapisan luar otak.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan program komputer menscan para relawan yang menatap ratusan gambar diam berbeda warna, seperti hitam, putih dan abu-abu. kemudian program meniru unsure-unsur dan huruf yang terlihat, walaupun hasilnya masih lebih kabur dibanding warna asli.

Langkah berikutnya, para peneliti akan belajar bagaimana caranya memvisualisasikan gambar dalam pikiran orang. Teknologi ini pun diperkirakan sanggup merekam mimpi.

“Memang agak sedikit seperti cerita khayal bersifat ilmiah, sebagai contoh, jika anda berusia 50 tahun dan telah bermimpi indah sebelumnya, anda bisa menelitinya dan menunjukkannya kepada anak-anak anda.” Ujar Yoshiyuki Onuki, salah seorang relawan percobaan.

Para ilmuwan pun mengatakan, teknologi membaca otak manusia akan dikembangkan agar manusia dapat berkomunikasi langsung dari pikiran mereka dengan peralatan elektronik. Dengan berkomunikasi tanpa gerak tubuh dan bahasa, maka keyboard dan tombol akan menjadi benda kuno.

“Walaupun terdapat banyak bentuk komunikasi, internet atau alat kecil lainnya, semua itu dibatasi oleh tubuh. Penemuan ini berarti kami memiliki metode komunikasi yang dapat berhubungan langsung dengan otak”. Jelas Dr. Yukiyasu Kamitani, juru bicara para Ilmuwan.

Teknologi baru ini membuka pintu pada banyak kemungkinan baru. Namun para ilmuwan memperingatkan, bahwa itu bisa membawa masalah pada budaya dan masalah rahasia pribadi. Mereka yang ingin “mengunci kepribadiannya”, mungkin harus menunggu sedikit lebih lama.

(Sumber: Indowebmp3.com)

Kumpulan Cerpen Kacang Keledai

Filed Under (Buku-ku Buku-mu Juga) by rey_khazama on 25-01-2010

Sinopsis

Sungguh Penulis itu Konyol. Dia bicara dengan batinnya agar tulisannya bisa dihargai. Dan betapa beruntungnya lelaki yang mendapatkan mimpi dalam secangkit teh miliknya itu, karena dia berhasil menemukan sosok yang mempesona sekaligus menjebaknya dalam sebuah masalah.

Semua tentang kebodohan manusia, yang tanpa disadari, hadir dalam kumpulan-kumpulan cerita pendek di dalamnya. Apa yang terjadi, dan bagaimana cerita singkatnya? Bukalah lembar-demi lembar, dan temukan: Bawah Bodoh bukan tanda tak mampu.

Endorsment:

“Membaca Rey, adalah benar-benar seperti kacang keledai. Membaca sekali, ia tampak sederhana. Membaca kali kedua dan seterusnya, membuat kita terpikat dan menyadari gagasan-gagasan yang cerdas dan orisinil dalam cerita-ceritanya itu. Homoficus dalam ceritanya masih terkesan moderat, namun kemoderatannya inilah yang membuat kita sebagai pembaca merasa dekat, dan ‘mudah’ menikmati ceritanya tanpa harus mengerenyitkan dahi yang terlalu…”
__Pringadi Abdi, Pecinta Sastra, Penulis Alusi.

Telah terbit, buku kumpulan cerpen Kacang Keledai
Penulis: Rey Khazama
Desain Cover: Rey
Penerbit: Indie Book Corner
Hal: 140 halaman
Cetakan Pertama, Januari 2009.

Pemesanan:

Rey (08812239720)

Konsistensi Menulis

Filed Under (adalah malumu) by rey_khazama on 22-07-2009

Tak banyak para penulis sering merasa ceritanya jelek. Tak banyak juga para penulis berpikir, kalau menulis itu hal yang gampang-gampang susah. Halah…saya termasuk penulis yang menganggap menulis itu gampang-gampang susah. Adalah tehnik yang menghambat perkembangan imajinasi saya. Bagaimana dengan anda sendiri?

Jawaban yang sering saya temui,ketika bertanya pada penulis professional selalu sama: Banyak-banyak baca, Rey. Banyak-banyak juga belajar. Hm…masukakal. Tapi ada salah seorang penulis yang memberi saya saran berbeda dari biasanya. Mohon maaf, namanya tidak bisa saya sebutkan.

inilah percakapannya.

Saya : Halo bos. Apa enaknya nulis?

NN: Sama seperti kamu tanya saya sekarang. Apa enaknya bertanya?

Saya : Hm…susah ngomong sama penulis jadi, yah. Selalu ada teka-teki di balik silang.

NN: So?

Saya: Ya, kok malah bilang SO? saya gak Suka Odading.

NN: Apalagi saya. Kok malah ngelantur, sih, Rey? Ketemu saya mo nanya tulisan ato ngomongin makanan?

Saya: Hehehe…Bagaimana caranya menjaga Konsistensi menulis, mas? Terkadang para penulis pemula memiliki kendala dengan hal tersebut? Bisakah anda jawab kurang dari 1 kata? eh…1 Kalimat maksudnya.

NN: Hm…(penulis itu menyeruput kopi dulu). Gampang sih. Tanamkan saja dalam diri anda sebagai penulis, kalau anda menulis untuk diselesaikan. Bukan untuk ditunda.

Saya: Wew. itu ada beberapa kalimat mas. tapi jawabannya masuk akal juga.

NN: jelas masuk akal, lah, Rey. Masa masuk angin.

Saya: Mas mancing bercanda melulu, nih. Rey jadi suka gak serius.

NN: Ok! tanya apa lagi?

Saya: Apa bedanya mbe sama domba, mas?

NN: Waduh, kamu ngelantur.

Dan sesi pertanyaannya akhirnya selesai. itu saja sudah membuktikan saya tidak konsisten dalam bertanya. Tujuan saya A, tapi yang saya hasilkan Z. Tetapi saya ambil kesimpulan dari kata singkat penulis itu, bahwa menulis itu tidak lah serius mampus, namun serius tapi santai. Dan kalo kelamaan nyantainya, mending anda piknik aja di gunung, atawa di Hawaii.

Semakin melantur sajah.

Keep Writing for Writer.

3. Untuk Wanita Senyum

Filed Under (Kumcer Berikan Cinta'Tuk Milandha) by rey_khazama on 31-01-2009

Tagged Under :

Wanita Senyum

Wanita Senyum

Salam malu,

Mungkin hanya kata yang bisa kuberikan untukmu. Aku tak tahu namamu siapa. Tak tahu juga alamatmu dimana. Yang kutahu hanya sosokmu punya senyum yang indah, ketika aku makan di kantin dan melihatmu menyantap semangkuk mie sembari berbincang dengan sahabatmu tercinta. Semoga kau tak melihatku.

Senyummu berbeda. Sungguh berbeda dari yang kulihat di luar sana. Serasa imaji ini terus bertanya dan bertanya. Mendadak dadaku berdegup lebih kencang dari detak biasanya. Ingin kusapa dirimu, namun aku tak bisa. Karena aku terlalu biasa sebagai jelmaan terbodoh di dunia. Yang kubisa hanya berkata—dalam santunan jiwa, Merebahkan gita-gita yang nyaring—bening dalam kumparan cinta. Secercah senyum itu. Sehalus bibir itu. Seindah lesung itu.

Gurat merambat dalam setiap lekuk pipimu. Mahadewi dengan segala cintanya. Cahayamu itu indah ketika semburat silau menapak dalam bola mata. Melipur jelita mimpi—membaur bersama hati—menelan jantung sedalam iman, dan merasuk gurindam cinta dengan tabuh riang.

Apakah kau venus dalam legenda lama atau milandha dalam dongengku belaka? Kau buatku terpaku di atas papan mimpi. Kau meleraikan nadi dengan pusaran kamuflase. Hanya lambai-lambai dengan tawa penuh gelora yang mampir dikhayalku—memberi arti dengan seutas tali senyum. Tali yang indah dengan segala panjangnya. Tali yang indah namun tak dapat berubah menjadi merah. Dan tali indah yang tak mungkin berubah menjadi benang. Benang merah yang akan menyatukan buah kebetulan. Kebetulan yang menarik hasratku untuk menghampirimu, mendekat depan di hadapmu, dan memberikan kecup manis seperti kisah dongengku belaka, Milandha

Aku sadar bahwa aku hanya bermimpi di siang bolong ketika potret senyummu ku ambil tanpa izinmu. Aku penasaran dengan yang ada di depanku. Aku sungguh penasaran dan hatiku gentayangan. Ingin berjabat tangan, namun lengan ini enggan. Ingin menyapa namun bibir tak jua terbuka. Ingin menggoda keburu kau tertawa (dan seperti yang kau saksikan sekarang). Kau tersenyum dengan indah.

Senyummu itu sungguh membuat jelaga kering. Menjadikan dinding samar. Membungkus rumput dengan embun ,dan tetesannya tak mau jatuh hanya untuk menyaksikan karya tuhan paling indah di dunia. Mereka semua terpana dengan segala kelakuannya. Mereka semua bercahaya dengan segala kegirangannya. Dan mereka malu-malu dengan silau senyum yang semburat itu.

Kau sungguh meraba kulitku hingga merinding. Menggelitik leherku sampai geli. Dan membuatku merasa bujang paling beruntung sedunia. Sungguh ku tak berdaya. Tak sadar kalau itu membuatku tersenyum-senyum sendiri (seperti orang gila).

Apa lagi yang harus kupertaruhkan ‘tuk menerobos kedalaman hatimu? Aku tak pernah menemukanmu lagi. Kalaupun kau kutemukan di balik jendela sana. Hatiku ciut dan selalu menyumput. Seperti siput yang selalu sembunyi dan ikut menyendiri dalam kegelapan hati.

Wanita Senyum, hanya ini yang bisa kuberikan dari seorang pelacur kata. Hanya mampu sembunyi dalam kosakata yang berbelit dan buatmu sembelit. Setelah kertas penuh mutiara ini sampai di tanganmu kau boleh lakukan sesuka hatimu. Kau robek, Boleh! Kau bakar, Boleh! Kau ludahi pun– juga boleh! Tapi bila kau menyimpannya—berikanlah senyum itu satu kali lagi padaku. Agar sayap ini melayang dengan lapang dan angin menyambutku dengan kencang. Awan-awan pasti akan menyiapkan pesta untuk menyambut senyum itu dari genggamanku, bersulang bersama langit dan bercanda bersama surya. Begitulah sekiranya kebahagiaan mereka dan juga kebahagiaanku yang tiada tara.

Selalu tersenyumlah Wanita Senyum pujaanku. Agar mereka selalu menyukaimu. Selalu mencintaimu dengan segenap hara yang terbengkalai. Melengkapi diri dalam setiap canda dan prahara. Meluluhkan mereka dengan halusinasi buram namun tetap terjaga. Jelaskah?

Mereka’ itu jelas kaum sepertiku ,Wanita Senyum. Kaum pecinta senyum yang indah. Kaum pecinta senyum yang membentuk garis hidup dengan caranya sendiri, dengan katanya sendiri, juga dengan bahasanya sendiri. Singkat kata ‘mereka’ itu seperti aku dengan selembar bahasa pujangganya. Apakah ada lagi selain aku? Aku tak tahu.

Kau pasti penasaran dan bingung dengan ungkapanku, Wanita Senyum. Bila ingin lebih jelas, carilah aku. Aku yang selalu tersenyum di balik dosa itu. Yang selalu menyantap hidangan dengan tawa namun terpaksa. Sangkin terpaksanya orang tidak melihatnya. Sangkin terpaksanya, mereka anggap aku bahagia. Dan sangkin terpaksanya mereka tak melihat apa-apa. Aku selalu menyamarkan hidupku dengan senyum terpaksa yang sempurna. Hingga pasir pun tak bisa masuk ke dalam jiwaku dan udara pun selalu kembali keluar dengan cepatnya. Hanya tuhan yang benar-benar tahu siapa aku.

Senyummu akan selalu menggodaku. Berikan noda suci dalam sanubariku seorang. Hanya kau wanita yang kupuja senyumnya. Dan hanya kau juga yang merapat di barisan cintaku. Walaupun aku tahu, bahwa aku takkan bisa merong-rong kembali—meminta senyum itu lagi. Kau akan selalu menjadi pemilik senyum terindah yang pernah kulihat– biarpun orang lain berkata biasa. Kau juga akan selalu kuingat di hati karena senyummu sempat kembalikan senyumku yang hilang. Namun kembali suram dalam keterpaksaan.

Bagiku senyummu adalah korek api—dan aku rokoknya. Kau nyalakan api senyummu, dan aku siap menghisap senyummu. Tak peduli aku kan candu atau kau sebagai randu sekalipun.

Dengan penuh cinta surat ini kutulis, hanya untuk wanita yang tak kuketahui nama dan alamatnya dimana.

4 Desember 2008

Diproteksi: 1. Dongeng Milandha

Filed Under (Kumcer Berikan Cinta'Tuk Milandha) by rey_khazama on 30-01-2009

Tagged Under :

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


2. Dunia Tanpa Ujung

Filed Under (Kumcer Berikan Cinta'Tuk Milandha) by rey_khazama on 30-01-2009

Tagged Under :

Apa yang harus kuperbuat? Aku hanya diam di atas batu karang. Menatap ombak nan gemulai. Merintis serpih pasir. Menyentuh garis cakrawala. Dan memandang senja nan jauh disana.

Aku merintih dunia fatamorgana. Tak ada serbuk impian yang bisa kutepis. Hanya asa kosong dalam jelaga sepi. Ingin teriak pada ilalang nan bergoyang. Menabuh gendang dan menari-nari di atas altar keseimbangan.

Disini memang sepi. Seperti rumah tanpa tuan yang gentayangan. Ketika malam tiba, ruh-ruh mengapung di atas gelombang samudra. Menjerit dengan siulan lengking dan meng-gerepe dada dalam dingin. Tapi aku tetap diam. Saga dalam segala kelakuanku. Bingung dengan tumpah kataku.

Ada hantu yang bergelantung di antara udara. Mereka tak menatapku awalnya. Dan ketika mereka menatapku, mereka diam dan buatku juga diam. Aku percaya pada illahi, jadi untuk apa aku takut menatapmu? Mereka pun akhirnya lari terbirit-birit menuju keujungan langit.

Sungguh sepi disini. Hantu saja menjauhiku. Apa mereka takut padaku? Atau karena tak bisa menakutiku?.

Gagak memekik lantang, kumbang menggali dengan senang. Aku tetap diam. Dalam gerimis cinta aku memandang langit biru. Mereka juga mendadak tak ada ketika pandanganku bergeser menatapnya.

Langit memang tak salah menjauhiku. Ketika awan bergeser, diapun ikut. Kini dapat kulihat dengan mata telanjang, Bintang bermain dengan mesra. Membentuk kaligrafi cinta dengan rasinya. Namun terjadi lagi ketika mereka memandangku. Bintang bubar barisan! Ada apa dengan mereka?. Semua membuatku bingung.

Kini ujung dunia melompong. Dapat kulihat bulan dengan jelas. Pijarnya sungguh menyilaukan ketika langit telah pergi. Bulan seperti punya mata. Melirik ke kiri dan ke kanan. Seperti berbincang dengan surya yang tenggelam. Menyapa seluruh planet dengan keanggunannya. Kadang tersenyum dengan lubang di wajahnya. Namun ketika mata itu menatapku dia berteriak dengan kencang. Sama seperti bintang-bintang yang lari terbirit-birit. Ada apa dengan aku?

Sang surya marah melihat Bulan pergi menjauhinya. Dia kira ada yang berani menggoda pujaan hatinya. Semakin membaralah jiwanya. Dapat kulihat mars dan merkurius menyingkir dari orbit. Mereka ditampar oleh Sang surya. Mereka melebur menjadi kerikil yang disebut asteroid. Saturnus menggadaikan cin-cinnya untuk menyuap Sang surya. Tak palak sang surya pun semakin garang. Dihempaskannya planet terindah itu kedalam lubang hitam. Semakin besar bara itu membakar seluruh planet kecuali Bumi. Bumi adalah anak kesayangan Bulan.

Sang surya semakin membabi buta, diterjangnya segala galaksi yang merajai seni di angkasa. Dimakannya bimasakti dengan semprani di tubuhnya. Ganas dan tak kenal ampun sang surya murka. Melirik dia ke kiri dan ke kanan. Mencari bulan yang hilang entah kemana.

“Cari apa kau Matahari?” tanyaku berbisik.

Jelas Sang surya tak mendengar. Jarakku dengannya berjuta-juta kilometer. Lagipula untuk apa dia mendengarkan manusia kerdil berbicara.

Sang surya panik bukan kepalang. Menjerit dia dengan teriakannya yang membahana. Membuat dunia bergetar dengan segala kekuatannya. Lapisan bumi retak, runtuh seperti bangunan keropos. Jatuh menghantam tanah dengan kejam. Para gagak memekik kencang dan akhirnya terbakar panas. Ombak menggulung karang, hempaskan aku dari satu karang ke karang yang lainnya. Aku gamang merasakan getaran bumi. Badanku terasa dikejar setan. Buatku menggigil kesakitan. Basah aku oleh ombak. Namun sang surya tak bergeming sedikitpun. Dia tetap memancarkan pijarnya dengan keras. Membuat gunung mual. Meletus dengan magmanya. Merajam rumput menjadi abu. Di hidung gunung, Lahar menjalar hingga ke sudut desa ,terdengar pekikan manusia hingga memekakan telingaku. Tak dapat kulihat mereka disana, apakah masih hidup atau tidak. Dunia terasa mencekam.

Sang surya tak mau diam. Tak lekang kemarahannya. Dia tetap mengamuk dan mengamuk. Membuat gosong langit yang pergi. Menjadikan janda awan yang indah. Merobek bumi hingga terbelah dua. Dia tak hiraukan kesayangan Bulan. Matahari semakin garang.

Ini semua tak dapat dibiarkan.’ Dengan tubuh yang memar aku menggapai ujung karang. Berdiri dan berteriak lantang.

“MATAHARI, INI BUKAN SAATNYA KIAMAT!!!”

Sang surya tetap meradang, murkanya tetap kencang. Tak dengar dia aku menerjang suaraku dengan parau.

“WOIII, MATAHARI ..IIII…NIII…BU…KANNN…SAATNYAA…KIA..MAT !!!” kuulangi teriakan itu dengan ejaan.

Sang surya kali ini mendengar suaraku yang sekeras aum. Murkanya memang tak kembalikan bumi menjadi satu dan jagat raya menjadi utuh. Namun dia melirik ke belahan bumi terujung. Matanya sangat tajam menatapku. Sejenak kualihkan pandanganku pada retakan bumi yang menjauh dari pulauku dan tumpahnya laut melayang di angkasa. Kemudian kukembalikan lagi tatapanku pada sang surya.

“Hah?! Kemana dia?” tanyaku dengan kerutan di alis.

Duduk aku di ujung karang itu. Melihat jagat raya kosong. Gulita dan tak teraba. Apakah dunia masih ada? Karena ini terasa selesai begitu saja. Kucoba pegang telingaku dengan meraba. Masih ada! Kusentuh juga bibirku, masih tetap seperti biasa. Dan kulentangkan tubuhku. Karang masih terasa. Jadi apa ini? Kemana matahari pergi? Dan apa aku harus hidup tanpa cahaya? Kiamatkah ini? Atau hanya mimpi belaka?

Setitik cahaya datang menghampiriku. Biarpun kecil aku merasa bahagia. Dia datang mendekatiku, semakin lama semakin besar. Awalnya kukira itu anai-anai yang mencari teman. Namun semakin ia mendekat– ia menjadi tiga kali lipat lebih besar dariku. Sekitar 12 hingga 14 kaki.

“Apa yang kau perbuat manusia?” tanya cahaya itu.

“Justru aku ingin bertanya, ada apa dengan semua ini? Dan kau siapa?” jawabku bingung.

“Tak usah kau bertanya manusia, itu bukan wewenangmu! Jelaskan saja kenapa kau buat murka ciptaanNya?”

“Aku hanya menatap awan, langit, bintang, bulan dan yang terakhir matahari. Dan entah kenapa mereka semua pergi. Dan aku yakin kau tahu kenapa jagat raya kini gelap. Untung saja kau datang. Setidaknya ada yang menemaniku.”

“Malangnya dirimu manusia, tak sadarkah kau kini penghancur nomor satu di dunia?”

“Memangnya aku siapa? Aku ciptaan-Nya ,kan?”

“Kau raja sepi, selalu menyendiri. Hidupmu dipenuhi kepenatan. Kau tak pernah mau berbaur dengan orang sekitarmu. Sehingga semua orang tak ada yang mengenalmu. Dan ketika kau berbaur dengan alam. Mereka menganggapmu anak dajal yang lahir dari perut bumi. Jelas saja mereka lari terbirit-birit ketika kau menampakkan diri. Mereka pikir kiamat telah tiba.”

Aku bingung dengan ungkapannya. Salahkah aku jika hidup menyendiri?

“Jadi sekarang apa yang harus kulakukan, Cahaya indah?”

“Aku bukan tuhan, berdo’a lah kau padaNya. Sesungguhnya Dia Maha Adil dan Bijaksana.”

“Tapi aku tak menemukan air dan pasir untuk bersuci?”

“Manusia itu diciptakan sempurna” jawabnya menggema

Dia pergi menjauhiku, seolah berjalan ke dunia tanpa ujung. Semakin mengecil dan mengecil, lalu hilang ditelan gelap. Jagat raya kembali gelap dan tak ada yang menemaniku. Karang yang kududuki pun seperti ingin memelukku, karena dia tahu kesedihanku.

Kupejamkan mataku dan memohon dengan penuh cinta. Dan akhirnya mulut ini terbuka juga untuk alam. Setelah sekian lama aku tak menemuinya, seakan mereka memanggil panggilanku.

Sang surya kembali datang, bersama kekasihnya Bulan tercinta. Para planet pun berkumpul jadi satu dan membentuk orbit kembali seperti semula. Sang surya muntahkan isinya, galaksi kembali mengarung di angkasa. Laut bersatu dengan tanah, gunung bersihkan kotorannya, gagak kembali memekik dengan paraunya.

Semua hidup kembali. Bumi kembali terang. Dan memar di tubuhku tiba-tiba hilang seketika.

Tak mau aku meneteskan air mata, karena takut mereka semua pergi tinggalkan aku lagi. Kuberikan senyum terindah untuk alam. Dan mereka semua membalas dengan semilir angin nan sejuk. Menyapa setiap helai rambutku dengan cinta. Dan memberiku nafas untuk bahagia.

Sesosok wanita berjalan menendang pasir di tepi ombak. Menatap senja yang mulai tenggelam. Cantik dan mempesona. Kuhampiri dia dengan senyum lebar, lantas dibalasnya senyuman itu dengan jabat tangan.

Dia mendatangiku.

“Saya Milandha, boleh tahu namamu?”

“Rey.”

Wanita itu tersenyum lagi dengan senyum laksana berlian yang kemilau dengan cahayanya — dan akan beri cerita baru dalam kisahku. Kisah berkepanjangan yang akan takkan punah hingga saatnya tiba.

Danau Toba, 19 September 2008

4. Catatan Setan

Filed Under (Kumcer Berikan Cinta'Tuk Milandha) by rey_khazama on 30-01-2009

Tagged Under :

Disini aku merajai kegelapan. Aku dirundung malam di bawah rembulan. Aku dipecat tuhan. Sebagai hamba terbengkalai yang lalai karena petualangan nikmat.

Semua orang bisa datang dari pelosok dunia menghampirimu. Namun hanya cintaku yang mengalir suci dengan jelaga bening mengayuh kisahmu. Dalam setiap duka merintih dan dalam setiap sosok kau—kumimpi.

Kau selalu hadir dalam mimpiku dengan keadaan putih. Seputih gurat mega yang bentuknya sembarang. Kau mimpi tak terhingga yang lahir dari surga. Kau mengantarku juga menuju kilau cahaya. Namun selalu ada tapi di samping tapi. Ke-tapitapi-an yang di tapitapi kan.

Apalah sayang itu bila hantaran kisahmu terlantar di bibir pantai. Aku menjajal kataku dengan seribu makna yang tak semua orang tahu. Jikalaupun mereka tahu, mereka tak mengerti dengan bahasa nurani. Nurani yang tanpa nanar nan garang. Nurani yang menggebu namun terjaga dalam arus sukma yang hidup. Berkoar dan selalu berapi-api.

Nurani mereka beragam dan akan selalu mengecam nuraniku. Nurani gamblang yang tak tersentuh. Tak teraba. Dan patut dipertanyakan secara hakiki.

Tak usah kukatakan lagi ‘aku cinta kau’ padamu. Kau sudah tahu dengan sejuta bibir terkatub. Diam dengan keemasan jiwa dan gombal dengan seribu alasan.

Berat sungguh berat Jibril, jika aku selalu bermimpi. Seribu dokter setan telah kugampar dengan tatap kosong. Mereka hanya mengais iba. Iba dan akan tetap iba dalam sentuhan jiwa di atas materi dan keterpaksaan.

Berat sungguh berat mikail, aku mangkir dari gerbang yang diimpikan Adam dan Hawa. Ringan betapa ringan ketika aku mulai masuki mimpi itu.

Roqib dan Atid, apa kau bingung mencatat amalku? Apakah beratnya tetap seimbang? Seimbang mana antara cintaku dan dustaku padaNya—yang selalu disana? Sudah tak usah ditanya lagi. Kalian sudah tahu.

Ridwan, sungguh aku merindukanmu dalam pelupuk mataku. Bisakah kau selipkan pintu itu dalam mimpiku yang abstrak. Aku ingin menjelma jadi mereka yang sempat mengintip surga.

Aku memang cinta Milandha dan akan selalu cinta Milandha. Seribu Milandha datang pun aku tahu Milandha yang nyata itu siapa. Dan sejuta kembaran Milandha mampir di mimpi juga aku tahu yang paling bercahaya itu siapa.

Aku tak kenal logika dalam cinta. Aku tak kenal nyata yang benar-benar nyata. Aku adalah rongsokan goblok dalam kegoblokan cinta. Aku memang goblok dan goblokku akan terus menjadi-jadi. Hingga surya membakar lembaranku pun, aku akan tetap goblok dalam kegoblokan cintanya.

Aku adalah setan yang jatuh cinta pada Milandha. Milandha si wanita buatanNya. Yang punya senyum berlian dan kulit putih seperti bengkuang. Milandha yang hidup dari sebuah dongeng dan aku melihatnya. Milandha yang diperebutkan ratusan negara tolol yang telah kugoda imannya,dan kulempar doanya.

Aku memang setan yang dilempar dari surga karena emoh menyembah Adam. Aku memang setan yang selalu menggoda. Aku memang raja laknat dari neraka yang terlaknat sifatnya dan terkeji dustanya.

Memangnya hanya manusia saja yang bisa mimpi?! Mimpiku berbeda dengan kau manusia manusia yang sama gobloknya dengan aku. Hidupku sama saja dengan mimpiku. Jalanku sama saja dengan mimpiku. Godaku sama saja dengan mimpiku. Dan mimpiku adalah mimpi laknat yang teramat sangat kejinya. Sekeji emosi dan selaknat babi.

Cinta pada Milandha yang jelas-jelas menolak cintaku. Dia menolakku memang dengan halus. Namun tetap saja itu kasar bagiku. Tetap sarkas bagiku, karena aku tahu keji dan sempurnanya manusia itu seperti apa.

Dasar Milandha tak tahu diri. Dan lelaki juga tak tahu diri. Lebih baik aku menyaksikan lelaki yang jatuh cinta pada Milandha mengalami nasib lebih naas seperti aku, daripada menyatakan cinta lagi padanya. Kan kubisikkan kehalusan cinta pada lelaki namun dengan tujuan kotor. Agar mereka menemaniku menuju gerbang yang di jaga Malik, sang malaikat penjaga neraka.

Catatanku ini akan kupersembahkan lewat lelaki yang bernama sama. Dongeng yang sebenarnya nyata. Dongeng tentang Milandha. Dongeng yang berisi tentang kebutaan cinta. Dongeng dimana ada Rey, Disitu ada Milandha. Dongeng dimana Milandha selalu dipuja senyum berliannya. Dongeng yang tak pernah punah dimakan usia—hingga ada jawabannya. Dongeng dimana kisah mereka selalu sama. Namun berbeda ceritanya.

Semoga catatan ini bisa jadi penyemangatku sebagai setan yang goblok oleh kegoblokan cinta. Cinta memang goblok bagiku saja. Dan aku sadari itu sepenuhnya. Sejak manusia diciptakan dengan tanah dan sejak aku dilempar dari surga.

Bandung, 10 Oktober 2008